Kamis, 19 Mei 2011

MINDSET EDUKASI

Pendidikan memang harus selalu mengikuti perkembangan zaman. Ada pertanyaan, alat apakah yang digunakan untuk menyimpan nasi????. Seorang anak menjawab magic jar...dan sang guru menyalahkan jawaban itu. Sang guru beranggapan bahwa jawabanya adalah bakul/ceting (bahasa Jawa). Seorang guru memang idealnya harus mengikuti perkembangan zaman. Karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang setiap waktu.

Ada satu pernyataan yang mengatakan pendidikan tidak hanya untuk 2 atau 3 tahun kedepan, namun pendidikan itu untuk waktu yang cukup lama. Banyak contoh dari pernyataan itu, bagaiman Einstin yang harus keluar sekolah karena dianggap anak yang bodoh tetapi dia mampu menjadi ilmuwan yang hebat di masanya. Bagaiman Thomas Alfa Edison yang dianggap punya kelainan namun ia mampu menerangi dunia dengan bola lampunya.

Pendidikan di Indonesia hanya terpaku dalam nilai kognitif dan kurang memperhatikan aspek yang lainya. Pada usia dini mereka boleh menjadi orang yang bukan apa-apa dalam kehidupan ini. Tetapi 20/30 tahun lagi mereka akan menjadi orang yang diperhitungkan dalam berbagai bidang. Biarkan mereka berekspresi di waktu kecil, tapi kita juga harus menanamkan karakter yang akan berguna untuk menghadapi masa depan mereka. Karakter dalam bentuk yang positif tentunya. Ada sebuah cerita tentang pendidikan di Jepang, apabila tahun ajaran baru salah satu test masuknya adalah memberikan sesuatu kepada calon siswa baru, apakah ia mengucapkan terima kasih apa tidak. Hal yang remeh yang sering kita tinggalkan ketika orang lain memberikan sesuatu kepada kita.

Kita perlu menguasai dan menjadi ahli dalam hal-hal yang penting untuk masa depan. Digambarkan untuk orang islam, keahlian membaca Al-Qur’an harus diasah dan menjadi ahli dalam membacanya. Keahlian membaca Al-Qur’an jauh lebih penting/urgen dari pada keahlian membaca koran tentunya...hahaha.

Seorang anak dalam pembelajaran di kelas tidaklah harus mendapatkan ranking 1, juara kelas, maupun memenangi setiap lomba yang diikutinya. Pada dasarnya manusia mampu mengembangkan dan mengasah satu saja kecerdasan yang dimiliki maka ia akan menjadi orang yang sukses. Karena ia mampu membranding dirinya sendiri dengan keahlian yang mungkin tidak miliki orang lain. Baik itu kecerdasan dari aspek kognitif, psikomotorik maupun afektifnya. Sebagai contoh pesepak bola yang hebat Leonal Messi dia memiliki kecerdasan dalam bidang psikomotorik, dia mengasah satu kecerdasan itu dalam hidupnya akhirnya ia menjadi seorang yang ahli dalam dunia sepak bola. mungkin dalam hal matematics dia tidak begitu jago, atau dalam fisika dia agak loyo. Namun dia mampu membranding dirinya lewat sepak bola. Sekali lagi belajar tidaklah untuk saat ini, dua tahun ke depan maupun lima tahun kedepan....Akan tetapi digunakan untuk nanti di masa yang akan datang.

Ada tiga komponen lingkungan dalam proses belajar mengajar antara lain : Sekolah, Keluarga dan Masyarakat. Ketiga komponen tersebut sangatlah berhubungan erat, saling melengkapi dan saling mendukung. Socrates, seorang filusuf ketika di tanya bagaiman cara ia mengajar, ia menjawab ”Pada dasarnya aku tidak mengajar, melainkan hanya menciptakan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar”.

Jelas lingkungan yang kondusiflah yang membuat anak didik kita mampu belajar. Belajar yang mencakup segala macam aspek baik psikomotor, afektif maupun kognitif si anak. Banyak orang tua yang kuatir anaknya di sekolah tidak mendapatkan nilai yang sempurna, takut anaknya menjadi anak yang bodoh secara kognitif. Pada dasarnya hal itu tidaklah berdasar, karena kita harus yakin bahwa anak kita pasti memilikli kelebihan dan kecerdasan dalam bidang tertentu, tergantung bagaimana kita menggali dan mengasah kecerdasan yang dimiliki oleh anak kita. Kita ingat sekali lagi bahwa belajar itu hasilnya akan dapat kita rasakan dimasa yang akan datang.

Biarkan anak kita bermain karena itu adalah masa mereka untuk bermain. Ketika kita melihat orang tua disaat kegiatan serius tetapi malah bermain, biasanya orang akan mengatakan ”Masa kecil kurang bahagia ya???”...hahaha. Mungkin itu hanyalah celotehan biasa, tetapi kalau kita mau merasakan hal itu menggambarkan bahwa masa kecil adalah untuk bermain dan berbahagia, namun sekali lagi kita idealnya juga menanamkan karakter yang positif dalam permainan anak kita.

Banyak orang yang ingin sukses, namun sayangnya banyak juga orang yang tidak tahu dan tidak mau menjadi sukses. Pada dasarnya untuk sukses setiap orang akan menghadapi kompetisi dalam hidup ini. Barang siapa yang mampu menghadapi dan siap untuk berkompetisi dia pasti akan menjadi pemenang. Orang yang menghendaki sukses pasti akan selalu menyiapkan dirinya untuk menghadapi kompetisi. Sedikit gambaran...mungkin banyak orang yang setelah sholat subuh ia tidur lagi bahkan sudah waktu subuh malah belum bangun. Secara tidak langsung ia telah kalah dalam berkompetisi dengan orang yang hanya jalan-jalan setelah subuh atau hanya menyirami bunga. Kenapa begitu??? Karena kita pasti akan menang jika berkompetisi dengan orang yang tidak siap (tertidur).

Kita mungkin juga sering mendengar orang berkeluh kesah dan menyalahkan keadaan karena tidak menjadi orang yang sukses. Memang kita sering menggunakan keadaan sebagai alasan kegagalan. Tapi ketauhilah kolektor alasan adalah salah satu ciri orang yang gagal dalam kehidupanya. Di dunia ini lebih banyak kegagalan jika dibandingkan dengan keberhasilan. Hanya orang yang mau bangkit dari kegagalanlah orang yang berhasil dalam hidupnya. Anggaplah kegagalan itu adalah masa lalu sehingga kita tak perlu memikirkan atau mengingat-ingat lagi. Ada sebuah ungkapan ”boleh kita melihat spion, tapi hanya sesekali. Kita harus fokus ke depan agar kita selamat”. Bolehlah kita mengingat masa lalu tentang kegagalan, tapi seharusnya kita mampu mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut dan tetap fokus untuk memperbaiki kegagalan yang kita lakukan di masa lampau.

Orang-orang sukses, mereka berani melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain. ”Hasil yang luar biasa hanya dihasilkan oleh cara yang luar iasa, wajar kalau hasilnya biasa, karena dikerjakan dengan cara yang biasa. Memang mudah menggunakan cara yang biasa tetapi hasilnya pasti rendah”. Mungkin kita akan dikritik bahkan dicaci ketika kita tidak melakukan dengan cara yang biasa dilakukan oleh orang pada umumnya. Namun ketika mereka melihat hasil dari cara kita mereka akan bilang ”LUAR BIASAAAA”. Itulah yang sangat kita inginkan bukan???hahaha...kerjakan dengan cara yang luar biasa...ooookeeeeeyyyyy?????

Biarkan anak kita untuk mengekspresikan diri saat belajar.

Biarkan mereka memilih apa yang ia sukai.

Bentuklah karakter mereka melalui apa yang mereka senangi.

Penilaian kognitif bukanlah segala-galanya.

Asah kecerdasanya (satu saja), maka ia akan menjadi orang yang sukses.

Buat diri kita memiliki 1 saja branding/perbedaan keahlian dari orang lain.

Belajar adalah untuk mempersiapkan menghadapi masa yang akan datang.

Selama kita masih hidup, kita akan selalu menghadapi kompetisi dalam segala bidang.


0 komentar:

Posting Komentar