Rabu, 08 Juni 2011

SAAT YANG TEPAT UNTUK MENASEHATI

Kita mulai dari sebuah cerita, pada suatu hai ada seseorang bernama Abdul yang kehabisan bekal dalam perjalanannya. Uang yang ada di kantongnya sudah menipis, makanan dan minuman pun sudah tak ada lagi. Dia meminta bantuan kepada beberapa orang yang ditemuinya. Ada seorang penunggang kuda yang terburu-buru, si Abdul mencegat dan dengan bahasa yang sopan ia meminta bantuan. Namun, karena si penunggang kuda terburu-buru maka ia tidak dapat membantunya. Abdul harus menahan lapar lebih lama dech..... Sampailah si Abdul di sebuah rumah yang cukup bagus. Abdul tadi memberanikan diri untuk masuk ke dalam pekarangan dan mengetuk pintu rumah yang cukup bagus. Tak berapa lam si pemilik rumah keluar dan menanyakan urusan Abdul.

Abdul mengutarakan maksudnya bahwa ia hendak meminta bantuan, karena kehabisan bekal dalam perjalananya. Pemilik rumah itu kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa makanan dan beberapa lembar uang. Dilemparnya makanan dan uang itu ke pengembara sambil berkata, ”Nich buat kamu, makanya kalau gak punya bekal gak usah mengadakan perjalanan”. Walaupun sebenarnya Abdul membutuhkan makanan dan uang itu untuk melanjutkan perjalanan, namun ia merasa sakit hati karena diberlakukan seperti itu. Tanpa basa-basi Abdul langsung pergi meninggalkan rumah tersebut tanpa mengambil sedikitpun makanan dan uang yang diberikan oleh pemiliki rumah tersebut.

Suatu kebaikan dilakukan tanpa cara yang baik maka akan berdampak tidak baik. Orang kaya tadi menolong tapi dengan cara yang kurang baik, akhirnya diterima salah oleh orang yang ditolongnya. Sama halnya ketika kita menasehati seseorang baik teman kita, anak kita, tetangga kita atau anak kita sendiri. Jika kita menasehati mereka dengan cara dan waktu yang kurang tepat, hampir dapat dipastikan mereka tidak akan menerima nasehat yang kita sampaikan. Lebih buruk lagi akan terjadi salah paham dan dapat menyebabkan keadaan yang semakin runyam. Seperti halnya kita menangkap lalat dengan menggunakan bom...hahaha.

Anda ingin nasehat diterima dengan sehat??? Syaratnya adalah gunakan cara dan waktu yang tepat. Dijamin nasehat akan membuat sehat…hahaha. Banyak orang yang menasehati dengan cara membentak-bentak, bahkan sampai memukul. Mungkin kita pernah melihat seorang guru yang memarahi muridnya saat tidak mengerjakan PR atau melakukan suatu kesalahan atau orang tua yang mengomeli anaknya karena memecahkan sesuatu. Pada dasarnya orang-orang tersebut memberikan nasehat, namun cara yang digunakan kurang tepat. Sehingga yang teringat tentang amarah yang dikeluarkan oleh orang yang menasehati, bukan pada apa inti dari nasehat tersebut.

Pernah suatu ketika seorang pemuda yang main bola, dia sampai rumah waktu adzan Magrib. Sesampai di rumah ia di marahi oleh ibunya, “kaaaamu, jam segini baru pulang!!gak denger adzan yaaa????” bilang ibunya dengan suara yang cukup keras dan muka yang memancarkan ketidak sukaan. Si pemuda juga ikut marah karena sudah capek sampai rumah malah di beri kopi pahit sama ibunya.

Seandainya ibu tersebut membiarkan anaknya untuk mandi terlebih dahulu kemudian sholat. Baru setelah itu si ibu mengutarakan ketidaksukaannya kalau anaknya main bola sampai Magrib, kita yakin si anak akan menerima dengan lapang dada dan insya Alloh akan merubah sikapnya tersebut. Ada sebuah iklan di televisi yang bisa kita ambil pelajaran, iklan yang menawarkan teh..alkisah si ibu melihat atap rumahnya bocor. Dia sudah bilang kepada sang suami tentang hal tersebut, namun belum ada respon dari sang suami. Sampai waktu hujan turun dan meneteslah air dari atap yang bocor. Ibu berfikir apakah dia bilang tentang atap yang bocor kepada suaminya waktunya yang kurang tepat?. Kemudian si ibu membuatkan teh untuk suami dan diminum bersama di teras rumah. Barulah si ibu bilang kalau atapnya bocor dan sang suami baru tersadar bahwa beberapa hari yang lalu si ibu sudah mengingatkan tentang atap yang bocor tersebut. Hal ini menandakan betapa waktu yang tepat untuk mengingatkan orang lain adalah sangat berpengaruh terhadap diterima atau tidaknya nasehat/peringatan tersebut.

Terkadang kita melakukan hal seperti kasus pertama. Jika ada yang tidak sesuai dengan kehendak kita, kita memarahi orang yang bersangkutan secara membabi buta....ich sereem!!! Bisa jadi orang yang kita marahi justru melawan yang terjadi akhirnya kita akan mendapatkan musuh baru....hahaha.

Ketika kita hendak menyampaikan nasehat haruslah dikemas seindah mungkin, agar yang menerima bisa merasakan indahnya sebuah nasehat. Ada sebuah kisah yang menggambarkan jika segala sesuatu disampaikan dengan indah maka banyak manfaat yang bisa didapatkan. Terkisah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Suatu malam sang raja terbangun karena mimpi batang giginya tanggal. Dipanggilah seorang peramal untuk menjelaskan mimpi sang raja tersebut. Peramal tersebut mengatakan bahwa dikerajaan akan terjadi hal yang menyedihkan bagi seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya, hal itu dikarenakan tanggalnya gigi baginda menandakan bahwa satu gigi berarti akan ada keluarga kerajaan yang akan meninggal. Mendengar kabar itu sang raja menjadi marah dan akhirnya si peramal dikenai hukuman cambuk selama seratus kali. Kemudian sang raja memanggil lagi peramal yang lainya. Si peramal sudah tahu tentang kejadian yang menimpa orang sebelumnya. Si peramal mengatakan bahwa maksud mimpi dari sang raja adalah hal yang menggembirakan, karena sang raja akan sehat dan berumur lebih panjang dari keluarga baginda yang lainya. Mendengar perkataan si peramal sang raja menjadi sangat bahagia dan memberikan sekantung emas untuk peramal tersebut. Dari sedikit cerita diatas, walaupun yang disampaikan adalah berita menyedihkan namun menjadi indah ketika dikemas dengan bahasa yang indah pula.

Dalam dunia anak, untuk membangun karakter mereka. Kita hendaknya menggunakan cara dan tahapan dalam menangani anak untuk menyampiakan nasehat. Adapun cara penanganan anak yang dapat kita coba antara lain:

1. Memandang Dengan Visual

- memperhatikan dan menemani anak bermain

- orang tua atau guru tidak mengeluarkan kata-kata apapun, kecuali hanya memandang mereka.

- Tidak ada aturan-aturan kecuali ortu/guru memperhatikan tingkah laku mereka

- Sesuaikan dengan cara belajar anak (visual”dilihat saja”, auditori “dilihat dari jarak yang membuatnya nyaman”, kinestetik “melihat sambil membelai”)

2. Peryataan Tidak Langsung

- digunakan saat strategi dengan memandang visual tidak berhasil

- tidak menegur anak dengan kata “kamu”.

- Membuat pernyataan tentang diri anak tanpa menunjuk.

Exmp: seandainya ramai kita akan mengganggu teman.

3. Mempertanyakan

- menanyakan tingkah laku anak

- anak sendiri yang menjawab

- pertanyaan digunakan untuk menyadarkan akan kesalahan yang dilakukan anak

Exmp : Jika anak berantem “apakah kamu perlu bantuan?”

4. Peryataan Langsung

Ø memberi pilihan

- menggunakan bahas positif

- berhubungan dengan perasaan dan keselamatan.

Exmp: anak mencuri..”kamu pilih mengembalikan uang atau bapak ibumu kami panggil ke sekolah”

Ø mengungkapkan langsung/dari dalam hati.

Exmpl: Ananda, ibu kecewa dengan cara bicaramu yang kotor.

5. Campur Tangan Fisik

- Amankan hal/benda yang berbahaya.

- Menayampaikan pada anak apa yang ia kerjakan

- Bisa langsung menggunakan strategi kelima jika dalam keasaan ayng berbahaya.

Selamat mencoba...semoga nasehat yang kita berikan untuk orang lain bisa bermanfaat. Kita bisa belajar dari kesalahan yang kita dan orang lain lakukan.

masalah dan kesalahan adalah kawan terbaik yang menunjukkan kita

untuk melakukan dengan cara yang lebih baik”

Anggap saja ini hanyalah celoteh orang yang tak tahu sesuatu apapun, tetapi dia ingin selalu belajar agar dia bisa tahu sesuatu. (vs ’79)

0 komentar:

Poskan Komentar